Kamis, 21 April 2016

Sineblog Misteri RS.Sumber Waras part 2

Sambungan yang lalu...
kata mbah dengan senyum. “kamu gak pernah sekolah, gak pernah kuliah?” tanya mbah lagi. Jawabku”kuliahlah mbah, cuman jarang masuk”.”lulus?”. “luluslah mbah”. “kok bisa, jarang masuk tapi lulus?” tanya simbah lagi. “gampang mbah, titip absen” kataku. Sebelum tanya lagi aku duluin ngomong “gimana tadi lanjutan wwslt nya mbah, entara keburu malem”. “ oh, iya ya” kata si embah.

Sambil berpindah posisi duduk siembah menyalakan rokok gudang garam suryanya. Kulihat dia menikmati banget hisapan rokok itu. Aku sengaja diem untuk menunggu penerawangnya.

“Yang benar harus dibenarkan yang salah harus dinyatakan bersalah, tetapi mengambil kesimpulan itu tidaklah gampang, jika dilanjutkan jadi tersangka saja Ahok bisa cilaka, padahal untuk pembuktian itu adanya di meja persidangan” kata embah.

Aku hanya diem mencoba untuk mencerna, dan berpikir jika Ahok salah, dan bener bener keliru apa ya harus diselamatkan?

Tiba tiba wajahnya berubah sedikit serius.
Begini lee “ apa yang kau bilang tentang pertanyaan bagimana kira kira akhir cerita sineblog antara Ahok,KPK dan BPK bisa dilihat dari keputusan KPK. Tapi nuansa sebelum penetapan itu yang penting. BPK itu lembaga, dan Ahok hanyalah orang yang kebetulan gubernur. Tetapi walaupun gubernur dia itu populer dan selama ini didukung banyak rakyat. Dia juga selalu mengedepankan transparansi. Dia juga anti kepada korupsi, paling tidak seperti itulah dlm penerawangan mbah. 

Tapi orang bisa berubah lee, selama dia tetep seperti itu, maka dia akan clear. Masalahnya jika ada salah di prosedur bisa jadi dia kena”.
Lanjut mbah”Kalo kita boleh mengandai andai akhir cerita itu dengan akhir yang happy ending, dengan korban yang minim jika itu boleh disebut korban maka yang harus ditangkap adalah pejabat yang terlibat pengadaannya”.

“Ingat dalam cerita yang lalu?” tanya mbah.” BPK juga mengatakan ada kesalahan prosedur. Nah kesalahan prosedur itu pejabat teknislah yang paling bertanggung jawab, dan pejabat satu tingkat diatasnya kena sangsi administrasi. Ahok jelas jauh” kata mbah sambil memonyongkan mulutnya karena menghembuskan asap rokok kreteknya.

“BPK dalam hal bikin laporan belum pernah salah, paling tidak dalam hal perhitungan kerugian Negara. Data dia selalu dipakai dalam hal penegakan hukum. Jika KPK tidak mengindahkan temuan BPK, BPK iso purik ( marah), lha kalo BPK marah trus ga mau ngitung gimana KPK?” kata mbah sambil mlotot kepadaku.

Lanjut embah” jika Ahok tidak salah mutlak, rasanya Ahok akan ditolong”. “maksudnya mbah?”tanyaku. “apakah mungkin Ahok yang lantang itu mempunyai niat untuk curang?”tanyaku lagi dengan bingung.

“Embah ini jelek jelek begini pernah jadi Rt, pernah ngurusi perkelahian antar warga gara gara rencana pernikahan seorang gadis dengan pemuda kampung sebelah yang digagalkan orang tua si gadis gara gara orang tua si gadis mengetahui niat jahat pemuda itu”. Kata si mbah dengan sedikit sombong.

“Terus gimana ceritanya” potong-ku.
“begini”kata si embah.” bapak si gadis dapat cerita dari kawannya bahwa ada orang cerita di warung kopi si ijah, dengan tidak sengaja kawan si bapak itu mendengar mereka bercerita bahwa pemuda yang akan menikah dengan anaknya itu punya niat jahat, pemuda itu ingin menguasai harta si bapak gadis itu” tukas si mbah. Kemudian si mbah melanjutkan ceritanya, “ karena bapak pemuda itu bukan orang sembarangan maka dia tidak terima dengan cerita itu, dan ternyata si orang yang bercerita itu disuruh menebarkan berita oleh orang lain yang mempunyai maksud menggagalkan pernikahan si gadis dan si pemuda” ujar si mbah menutup ceritanya.

“eh lee dari tadi kamu bengong saja”, “ kamu sudah makan?” tanya si embah. Aku tersentak,saking asiknya mendengar cerita si mbah sampe lupa waktu, ini sudah malam dan memang aku belum makan. “belum mbah, apa mbah sudah?”tanyaku.”hehehe kamu ini lucu, lha wong dari tadi kita cuma ngobrol ngobrol bersama kok, kalo kamu belum jelas aku belum” kata mbah sambil terkekeh. “ya sudah kita cari makan, sambil ngopi di warung si ijah ya” kata si mbah sambil ngloyor ke kamar mandi untuk siap siap. “ okey mbah, tapi ceritanya nanti di lanjutin ya” kataku bersemangat.

Setelah si mbah kluar kamar mandi lalu masuk kamar dan ganti pakean, sementara aku disuruhnya bersih bersih badan. Aku juga masuk kamar mandi untuk cuci muka.

Setelah selesai maka kita berdua naik motor menuju ke warung ma ijah yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah si embah.
Selama perjalanan aku melihat begitu damai Indonesiaku, begitu cantik. Tapi si cantik ini didalamnya penuh masalah. Apa karena terlalu luas ya, apa terlalu kaya, apa ter lalu sayang….koyok sinetron wae….

Akhirnya sampailah kita di warung kopi ning Ijah.
“malem ning Ijah” sapa si mbah. Sambil senyum genit si Ijah menjawab”malem juga mas,lama ya gak mampir,mentang mentang udah punya pandangan baru,yang lama di cuwekin”.” gimana yang baru, siip?”. Si mbah cuma senyum, dan aku bingung apa yang mereka bicarakan.

Warung kopi si Ijah memang bersih, tempatnya cukup luas. Penataannya rapi, tetapi masih memakai gaya warung kopi lama.
Ada,meja yang panjang dan berbentuk “L”. Ujung satunya nempel dinding kayu dan ujung lainnya berbentuk “L”. Diatas meja ada kotak kotak display dari kayu dan kaca, yang mana pembeli busa liat isi didalam kotak itu dan bisa mengambil apa yang ada di dalamnya. Didalam itu ada kue kue yang lezat.

Didepan meja laden ada kursi bangku panjang, pembeli yang tidak punya kawan seneng duduk disitu. Selain bisa ngobrol sama Ijah, juga bisa lihat gerak gerik Ijah. Lumayan dari pada lu manyun, mungkin begitu pikirnya.

Disamping tempat duduk di depan meja laden, ada tempat duduk di samping , disitu ditaruh meja meja dan komplit dengan 4 kursi mengelilinginya.

Si mbah mengajakku untuk duduk di area itu. Satu meja dengan 4 kursi.
“kita duduk disini saja lee, kita bisa ngopi setelah makan, sambil bercerita” kata si mbah. “wis persen sana, sesukamu,mbah mintakan rawon bali ya”. “ijah dah tahu kesukaanku” kata mbah. “enggeh mbah”jawabku.

Lantas aku bergegas menuju ning Ijah untuk pesen makanan untuk mbah dan aku. Untuk diriku aku pesen pecel saja. Tidak lupa aku persenkan juga kopi dan air putih 2 gelas untuk kita berdua.

Setelah pesan makanan dan minuman aku kembali duduk di meja dengan 4 kursi bersama si mbah. Entah kapan datangnya di meja sudah ada pisang goreng panas dan si mbah sudah mencicipinya. Kata mbah setelah aku duduk cobain pisang goreng ini, enak sekali.
Pisang goreng di sini terkenal lezat, dibuat dari pisang raja yang sudah betul-betul masak. Kemudian si mbah melanjutkan berkata pisang raja yang belum benar-benar masak jika di buat pisang goreng rasanya pasti sepet, kurang enak, itu karena getas pisang raja yang keluar saat dimasak kata si mbah melanjutkan omongannya. Aku mencoba mengambil satu biji dan memakannya, memang bener bener lezat. Tak lama berselang makanan utama yang kami pesanpun datang.

Wah gimana ini, barusan aku makan pisang goreng yang manis, sekarang dateng deh nasi pecel. Akusih jika sudah makan manis biasanya ga selera lagi jika langsung makan nasi. Kulihat si mbah enak saja makan rawonnya. Agar aku bisa makan maka aju minum air putih dulu,kemudian aku coba makan nasi pecelnya. Walau agak susah akhirnya selesai juga makanku. Kulihat si mbah juga sudah selesai.

Kami segera minum dan bersih-bersih setelah makan. Kemudian si mbah menyalakan rokok kretek kesayangannya, gudang garam surya. Nikmat sekali sepertinya. Aku sendiri tidak merokok jadi cukup melihat saja sambil minum air putih dan ngopi.

Setelah semuanya beres aku mulai bertanya ke si mbah,”bagimana kelanjutan penerawangan si mbah atas akhir cerita sineblog Ahok mbah?””apakah Ahok salah, jika Ahok salah bagaimana kira kira?” Apa ya mungkin BPK keliru, atau BPK bisa disetir untuk keperluan-keperluan tertentu?”.

Sambil senyum si mbah berkata”kamu pingin tahu ya, bisakah kita tunda barang sebentar, biar nasi rawon bali yang baru saja mbah makan bisa turun dulu”. Lagian mbah masih ingin menikmati hisapan rokok dan melihat si Ijah yang sibuk berjualan makan sambil ngomel ituloh, hehehe”. Aku tersenyum dan memang harus bersabar, aku mengangguk saja. Tanpa sadar aku juga menengok si Ijah yang gesit meladeni para pelanggan.

Setelah habis sebatang rokok gudang garamnya si mbah mulai melanjutkan penerawangannya, tetapi bersamaan dengan itu datalah seseorang menyapa dengan gembira. “Sur, apa kabar, hahaha”sapa orang itu. Tak kalah gembiranya si mbah balas menyapa” jiamput, kholiq, hahaha kapan kau datang”.” kau tambah kelihatan muda” lanjut si mbah meneruskan kata katanya. 

Mereka berderi dan saling berpelukan. Sepertinya mereka sahabat lama. Setelah mereka saling menjawab kabar masing-masing, dan duduk barlah si mbah mengenalkan padaku. Ternyata orang yang di sebut Kholiq tadi memang sahabat si embah waktu muda. Mereka berpisah saat pak Kholiq merantau ke jogja. Terakhir p Kholiq tinggal di jakarta.

Keiinginanku untuk tahu penerewangan Ahok tertunda lagi untuk sementara, tetapi melihat mode p Kholiq dan gayanya aku menjadi tertarik. Siapakah dia?
Aku diem dan mendengarkan cakap-cakap mereka, aku menyimak saja.
Bersambung….

0 komentar:

Posting Komentar